Hal itu dikemukakan oleh Presiden Yudhoyono di depan Sidang Bersama DPR dan DPD Dalam Rangka HUT ke-67 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Kompleks MPR/DPR Jakarta, Kamis.
"Saat ini kita dihadapkan pada situasi ekonomi global yang masih diwarnai ketidakpastian," kata Presiden.
Menurut Kepala Negara, ketidakpastian itu antara lain dipengaruhi oleh krisis di Eropa yang terus berlanjut dan belum ada titik terangnya dan belum menentunya proses transformasi politik di kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah.
"Negara-negara maju umumnya mengalami stagnasi, bahkan resesi. Ekonomi negara-negara berkembang, juga mengalami perlambatan yang berarti," kata Presiden.
Ketegangan baru yang terjadi di kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah itu, kata Presiden, juga berpotensi menyebabkan naiknya harga minyak dunia.
Presiden juga mengatakan bahwa di berbagai belahan dunia, banyak negara mengalami dampak negatif perubahan iklim.
"Kekeringan dan banjir sering menjadi ancaman terburuk, yang dapat mengakibatkan krisis pangan dan meningkatnya harga pangan dunia," ujarnya.
Ia kemudian mencontohkan kenaikan harga kedelai di pasar internasional yang disebabkan oleh penurunan produksi yang drastis pada beberapa negara produsen utama kedelai.
"Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat semakin memperkeruh situasi politik dan ekonomi global," kata Presiden.
Dalam kesempatan itu Presiden juga mengajak rakyat Indonesia untuk menjadikan momentum peringatan Proklamasi Kemerdekaan dan Hari Raya Idul Fitri kali ini sebagai hari kemenangan, sekaligus lembaran baru, untuk menyongsong masa depan bangsa dan negara yang lebih sejahtera, adil dan maju.
Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya setiap menjelang peringatan kemerdekaan, Presiden menyampaikan Pidato Kenegaraan dan Nota Keuangan di hadapan DPR dan DPD.
Khusus untuk tahun ini Presiden menyampaikan pidato kenegaraan pada pagi hari dan pidato nota keuangan pada malam hari setelah ibadah tarawih.(rr)
View the original article here
0 komentar:
Posting Komentar